Aku Sehat Lho

28 August 2009

Tiap 6,5 detik Seorang Meninggal karena Rokok!

Filed under: Rokok — yusiisnadiyah @ 10:39 am

JAKARTA, KOMPAS.com – Dampak rokok terhadap kesehatan semakin meresahkan. 6 dari 10 pelajar sudah terpapar rokok. Tembakau menyebabkan 1 dari 10 kematian orang dewasa di seluruh dunia. Total kematian akibat rokok sekitar 5,4 juta tahun 2006.

“Dengan kata lain 1 kematian tiap 6,5 detik,” kata Dr. Yusharmen DComm. MSc, Direktur Pengendalian Penyakit tidak Menular Ditjen PP&PL Departemen Kesehatan, dalam sebuah lokakarya di Jakarta, Jumat (28/8).

Menurut Yusharmen, tembakau sebagai penuebab utama kematian di dunia bisa dicegah. Dengan demikian prediksi bahwa kematian pada tahun 2020 akan mendekati 2 kali jumlah kematian saat ini tidak akan terjadi.

“Saat ini ada 900 juta perokok dunia, atau 84 persen, hidup di negara-negara berkembang atau transisi ekonomi termasuk Indonesia,” ucap Yusharmen. Menghadapi persoalan ini, pihaknya mengimbau agar pemerintah, komunitas dan keluarga menyadari bahwa pengendalian masalah rokok sebagai masalah bersama. “Sasarannya adalah menyelamatkan mereka yang berisiko rokok, seperti anak-anak, remaja dan ibu hamil,” tuturnya.

Harga Rokok Murah, Kesehatan Makin Terancam

Filed under: Rokok — yusiisnadiyah @ 8:15 am

JAKARTA, KOMPAS.com v – Rendahnya cukai rokok dinilai memberi dampak yang besar bagi kesehatan masyakarat. Cukai yang rendah membuat harga rokok menjadi murah sehingga hal itu semakin mengancam kesehatan masyarakat.

“Cukai rokok yang rendah, membuat harga rokok murah,” kata Dr Sonny Harry B. Harmadi, Kepala Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia di Jakarta, Jumat (28/8).

Menurut Sonny, dibandingkan negara-negara tetangga, harga rokok di Indonesia paling murah. Rokok merek lokal termurah di Singapura Rp. 66.600, di Malaysia Rp. 13.800, di Thailand Rp. 7.900, sedangkan di Indonesia cuma Rp. 5.000 saja.

Lebih lanjut ia menuturkan, berdasarkan laporan montoring harga jual eceran (HJE) yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, terlihat bahwa HTP (Harga Transaksi Pasar) untuk setiap jenis rokok dan golongan produksinya lebih rendah dari HJE yang diterapkan pemerintah.

“Secara rata-rata HTP hanyalah 69 persen dari HJE,” ucap Sonny.

Fakta ini menurutnya menunjukkan bahwa produsen rokok menanggung sebagian dari beban cukai rokok yang seharusnya ditanggung oleh perokok.

“Sehingga, implikasi penurunan konsumsi rokok akibat peningkatan cukai rokok menjadi lemah akibat perilaku produsen rokok seperti ini,” tutur Sonny.

Ia menyimpulkan, rokok yang dijual murah dan bahkan dapat dibeli secara eceran itu mempunyai dampak buruk bagi kesehatan. “Sudah ada lebih dari 70.000 artikel ilmiah bahwa konsumsi rokok akan meningkatkan resiko penyakit berbahaya seperti kanker dan jantung,” demikian Sonny Harry B. Harmadi.

27 August 2009

Shisha Tak Lebih Baik dari Rokok

Filed under: Rokok — yusiisnadiyah @ 10:36 am

KOMPAS.com — Shisha, yang mirip dengan bong yang dipakai untuk mengisap mariyuana, beberapa tahun belakangan ini memang sangat populer. Hal itu terlihat dari makin banyaknya kafe yang menyediakan shisha untuk menarik pengunjung. Shisha merupakan cara menikmati rokok ala Timur Tengah yang menggunakan pipa berbentuk gelas piala dan kandungan air sebagai penyaringnya.

Banyak penikmat shisha yang merasa bahwa menghisap shisha lebih aman dari rokok karena ada filter berupa air. Bahkan, sebagian penggemarnya merasa shisha bukanlah rokok. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Inggris dan The Tobacco Control Collaborating Centre menyanggah anggapan tersebut.

Menurut peneliti, pada saat seseorang mengisap shisha atau rokok herbal, justru kadar karbon monoksida yang dihirupnya tak bisa terukur. Bahkan, dalam satu sesi mengisap shisha, karbon monoksida yang dihirup jumlahnya 4 sampai 5 kali lebih banyak daripada yang dihasilkan oleh sebatang rokok.

Kadar karbon monoksida yang tinggi bisa menyebabkan kerusakan otak dan hilangnya kesadaran. Menurut tim peneliti, memang agak sulit mengetahui jumlah karbon monoksida (CO) yang dihasilkan dari sebatang rokok karena perbedaan inhalasi dari tiap individu.

Meski begitu, kadar CO dari napas yang dihembuskan orang yang bukan perokok secara normal kira-kira 3 ppm (per sejuta bagian dari udara), pada perokok ringan kira-kira 10-20 ppm, dan 30-40 ppm pada perokok berat.

Penelitian menunjukkan, penghisap shisha memiliki 40-70 ppm CO dalam napasnya. Jumlah itu berpengaruh pada gangguan sirkulasi darah sekitar 8-12 persen.

“Kami menemukan bahwa satu sesi menghisap shisha yang menggunakan 10 miligram buah tembakau selama 30 menit, atau sesi paling singkat, menghasilkan kadar karbon monoksida empat atau lima kali lebih tinggi daripada merokok,” kata Dr Hilary Wareing, Direktur The Tobacco Control Collaborating Centre.

Dengan kata lain, shisha 400-450 kali lebih buruk dari rokok. Selain tingginya kadar CO yang dihirup, Qasim Choudhory, pekerja dari NHS Stop Smoking Service, Inggris, mengatakan bahwa penggunaan pipa shisha secara bergantian bisa jadi medium penyebaran infeksi. “Ada risiko tertular tuberkulosis, herpes, atau infeksi lainnya,” katanya.

Theme: Banana Smoothie. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.