Aku Sehat Lho

3 September 2009

Ponsel Terbukti Picu Tumor Otak

Filed under: Lifestyle — yusiisnadiyah @ 1:21 am

Jakarta, Isu bahaya ponsel bagi otak memang pernah ramai dibicarakan, namun belum ada studi yang membuktikannya kala itu. Kini, para peneliti di Inggris dan Amerika membenarkan hal tersebut. Handphone adalah satu dari penyebab tumor otak.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam beberapa jurnal di Amerika dan Inggris tersebut, diungkapkan bahaya telepon genggam memang terbukti berbahaya untuk otak, terutama anak-anak.

Sebanyak 13 negara telah mendapatkan laporan studi tersebut. Studi yang dipelopori dan didanai oleh Telecom itu sudah berjalan selama bertahun-tahun sejak dimulainya tahun 1999. Tujuannya adalah untuk membuktikan adakah pengaruhnya antara ponsel dan tumor otak.

Dalam laporan Powerwatch and the Radiation Research Trust di Inggris dan EMR Policy Institute di Amerika itu, para peneliti mengatakan bahwa gelombang radiasi yang terpancar dari ponsel memang jadi faktor pemicu tumor otak, terutama anak-anak dan orang dewasa yang rentan terkena penyakit.

“Penelitian tentang pengaruh radiasi ponsel terhadap kesehatan manusia adalah studi terlama dan terbesar yang pernah saya jalani yang melibatkan 4 miliar partisipan,” ujar Lloyd Morgan, pimpinan studi yang juga anggota Bioelectromagnetics Society, seperti dikutip dari Huffington Post, Rabu (2/9/2009).

Lamanya studi itu dikarenakan tumor tidak tumbuh dalam waktu singkat, butuh waktu bertahun-tahun hingga seseorang terbukti memiliki tumor.

Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa telepon genggam memang faktor penyebab tumor otak. “Masyarakat dan publik harus tahu hal ini. Bahkan tidak hanya tumor otak, kanker mata, kelenjar ludah, kanker testis dan leukimia pun menjadi ancaman selanjutnya dari ponsel,” ujar Morgan.

Para ilmuwan dari berbagai universitas dan institusi kesehatan yang berkumpul dalam seminar “Cellphones and Brain Tumors: 15 Reasons for Concern” pun akhirnya setuju bahwa ponsel memang terbukti memicu tumor otak dan sebaiknya seseorang mengurangi intensitas yang berhubungan dengan ponsel, tidak berlama-lama menelepon dan menjauhkannya ketika sedang tidur.

Namun saat ini, di zaman serba teknologi dan cepat ini, ponsel sudah menjadi barang wajib yang harus dimiliki setiap orang, bahkan anak-anak sekalipun. Mungkinkah menjauhkan ponsel dari kehidupan sehari-hari?

Nurul Ulfah – detikHealth

Menkes: Orang Indonesia Pendek-Pendek Karena Jarang Minum Susu

Filed under: ASI / Susu — yusiisnadiyah @ 1:06 am

Jakarta, Jika dibandingkan negara-negara Eropa, masyarakat Indonesia memang lebih pendek dan kecil-kecil. Selain karena faktor ras, kebiasaan minum susu yang jarang adalah pemicu mengapa generasi Indonesia pendek-pendek.

Konsumsi susu memang menjadi masalah bagi sebagian rakyat Indonesia. Mereka lebih memilih membeli kebutuhan pokok sehari-hari atau rokok ketimbang membeli susu untuk anaknya.

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari pun khawatir jika anak-anak kurang menonsumsi susu, generasi Indonesia akan mengalami stunting (bertubuh pendek) dan tidak dapat bersaing dengan negara-negara maju.

“Kalau diperhatikan, orang Indonesia banyak yang pendek-pendek, maksudnya nggak cocok dengan usianya. Sekitar 38 persen masyarakat Indonesia masih stunting (bertubuh pendek),” ujar Menkes di sela-sela acara buka puasa bersama di kediamannya, Jakarta, Selasa malam (1/9/2009).

Seseorang yang stunting artinya dia mengalami malnutrisi yang kronis. “Secara logika, kalau badannya saja kurang gizi, apalagi otaknya. Tapi jangan dianggap juga kalau orang pendek bodoh-bodoh, banyak juga orang pendek tapi pintar,” ucap Siti.

“Saya tuh pengennya 15 tahun mendatang, bangsa kita jadi bangsa yang berdaya saing, berotak cerdas, dan ototnya kuat. Dan itu semua harus dimulai sejak ibu hamil,” ujarnya.

Untuk itu, Menkes pun selalu menyarankan agar anak diberi ASI sejak lahir dan membiasakan minum susu sampai usia sekolah. “Berikan ASI sejak lahir hingga 2 tahun dan susu tidak boleh lepas sampai usia sekolah. Kalau ini dijalankan, saya yakin kita akan punya generasi-generasi yang berdaya saing. Seperti Jepang yang saat ini sedang menggencarkan minum susu biar masyarakatnya tinggi-tinggi,” jelasnya.

Namun Menkes menyayangkan produk-produk susu yang ada saat ini masih didominasi negara asing. “Sayangnya kita tidak punya pabrik susu, petani-petani susu kita ditolak dan menangislah mereka. Kalau kita sudah punya program minum susu, kita bisa menghidupi para petani susu itu. Saya pengen sekali menghidupkan pabrik susu domestik untuk anak-anak sehingga generasi-generasi kita bisa tinggi-tinggi dan bisa berdaya saing dengan negara maju lainnya,” tutur Siti.

Nurul Ulfah – detikHealth

2 September 2009

Berikan ASI sampai Dua Tahun

Filed under: ASI / Susu — yusiisnadiyah @ 5:25 am

KOMPAS.com – Gencarnya iklan susu formula lanjutan ditengarai melemahkan tekad para ibu untuk terus memberikan ASI. Padahal, ASI seharusnya diberikan sampai bayi berusia dua tahun.

Meski susu formula dibuat dengan komponen semirip mungkin dengan air susu ibu (ASI), ASI tetap tak tergantikan. “Selama enam bulan pertama kehidupan bayi, ASI memenuhi 100 persen kebutuhan bayi,” papar dr.Asti Praborini, Sp.A, dari Perkumpulan Perinatologi Indonesia Pusat.

Menurut Rini, komponen dalam ASI sangat spesifik, disiapkan untuk memenuhi kebutuhan dan perkembangan bayi. “ASI memberikan imunitasi bagi bayi karena di dalamnya sudah terkandung anti virus dan anti kanker. Bayi juga tidak mudah infeksi. Itu sebabnya angka kematian bayi yang mendapat ASI lebih rendah,” katanya saat dihubungi Kompas.com.

Sementara itu untuk bayi berusia 6 bulan ke atas, ASI masih memenuhi 70 persen kebutuhan bayi. “30 persennya di dapat dari makanan lain, tapi bukan susu formula,” tegasnya. Hal ini karena pada usia 6 bulan bayi sudah diperkenalkan pada makanan padat, karena itu makanan bayi harus mengandung nutrisi dan gizi yang diperlukan.

Ditambahkan oleh Rini, susu sapi baru boleh diberikan saat bayi menginjak usia dua tahun. “Pada usia ini usus bayi sudah bagus dan sistem imunnya sudah kuat,” katanya. Anak berusia dua tahun sebaiknya sudah dilatih kemandiriannya dengan cara tidak menyusu lagi.

Pemberian ASI sampai bayi berusia dua tahun ini sejalan dengan kode etik internasional dan anjuran badan kesehatan dunia (WHO). Pada tahun 1981 WHO dan Unicef mengatur pemasaran susu formula berupa Kode Pemasaran Pengganti ASI dan Indonesia hingga saat ini belum meratifikasi kode tersebut. “Iklan susu dan makanan bayi yang gencar menyesatkan ibu-ibu,” kata Rini.

Temuan Kesehatan dan Ajaran Puasa

Filed under: Puasa — yusiisnadiyah @ 5:16 am

Quod me nutrit me destruit – Apa saja yang memberiku makan juga menghancurkanku.

(Tulisan tato di bawah pusar bintang film Angelina Jolie)

Ungkapan Latin di atas memang banyak pula digunakan sebagai slogan gerakan pro-anoreksia dan bulimia, yang dianut orang-orang yang punya kelainan kebiasaan makan. Anoreksia ditandai dengan tidak doyan makan sehingga badan pun sangat kurus. Bulimia adalah gejala makan dalam jumlah banyak dalam tempo singkat, tetapi lalu yang bersangkutan tidak ingin makanan yang ia makan membuatnya gemuk. Ia pun lalu membuang lagi makanan tersebut, bisa dengan memuntahkannya atau segera mengeluarkannya dengan obat pencahar (laksatif).

Namun, di luar konteks anoreksia dan bulimia, ungkapan tersebut bisa juga ditempatkan dalam konteks kesadaran bahwa makanan—jika tidak dikelola secara bijaksana—betul-betul akan menghancurkan seseorang.

Sekadar catatan, ada orang yang menafsirkan ungkapan Latin di atas dalam konteks lebih luas, dengan mengartikan ”makanan” sebagai serba hal yang terkait dengan kenikmatan duniawi. Namun, dalam kaitan ulasan kali ini, tafsir dibatasi seperti arti harfiahnya.

Laporan kesehatan

Dalam jurnal kedokteran modern, satu hal yang semakin banyak dilaporkan adalah kaitan erat antara kesehatan dan santapan. Satu hal yang ditekankan adalah bahwa semakin banyak makanan yang masuk ke tubuh, semakin besar potensi kehancuran yang akan dialami.

Kebutuhan ideal sebenarnya sudah sering dikemukakan, bahwa untuk mencapai keadaan kesehatan yang baik, dibutuhkan 19 vitamin, mineral, dan nutrien lain. Namun, problem yang dihadapi sekarang ini, seperti dicatat HealthSquare.com, bukan kekurangan, melainkan kelebihan. Bisa disebutkan: terlalu banyak lemak, terlalu banyak garam, terlalu banyak gula, dan lain-lain.

Sebagai akibatnya, satu ciri yang diamati luas adalah kegemukan, di mana berat badan 20 persen melebihi berat ideal. Dengan kegemukan ini pula meningkat risiko untuk terkena serangan jantung, diabetes, stroke, dan sejumlah jenis kanker. Untuk yang terakhir ini, menurut Perhimpunan Kanker Amerika, 50 persen kanker pada wanita dan 30 persen pada pria diduga terkait dengan kebiasaan makan.

Sebagai bangsa yang selama ini dicitrakan sebagai bangsa yang berlebih (affluent), Amerika dilanda kegemukan. Dari 67 juta penduduknya, satu dari empat orang menderita sakit jantung dan punya faktor risiko utama untuk sakit jantung, termasuk kolesterol tinggi dan tekanan darah tinggi.

Solusi untuk problem di atas juga telah luas diketahui, yakni diet sehat berimbang. Namun, untuk ini pun sering kali juga tidak mudah ketika setiap hari ada informasi yang bermacam-macam dan sering kali bertentangan. Meski demikian, sebagai pedoman umum, menu yang mengandung karbohidrat, protein, lemak (mono tak jenuh), kolesterol rendah, dan vitamin dalam jumlah berimbang banyak dianjurkan.

Namun, makan dalam jumlah berlebih, sementara gaya hidup minus olahraga, tampaknya justru banyak dianut penduduk masa kini. Sebagai akibatnya, fenomena kegemukan pun muncul luas. Sebagaimana disinggung dalam Sensus Kesehatan Nasional, prevalensi obesitas tahun 1999 meningkat jauh dibandingkan dengan angka 10 tahun sebelumnya, dan pada tahun 2004 angka ini adalah 9,16 persen pada pria dan 11,02 persen pada perempuan (Kompas, 27/8/2009).

Kearifan puasa

Dalam ceramah Ramadhan untuk karyawan Kompas Gramedia, Ustaz Amir Faishol Fath menjelaskan, ada satu organ dalam tubuh yang amat ”bergembira” pada bulan puasa, dan itu adalah pencernaan. Sistem ini manakala tidak puasa cenderung bekerja berat karena ada saja makanan yang dimasukkan oleh si empunya pencernaan. Dengan pola makan yang ada, memang tidak heran apabila angka kegemukan terus meningkat dari waktu ke waktu.

Dalam perspektif perkembangan kesehatan masyarakat yang tampak makin diwarnai gejala obesitas, yang umumnya merupakan produk makan berlebihan, upaya untuk mengganti haluan adalah menegakkan pengendalian.

Nafsu makan itu baik—karena bagaimana bisa makan tanpa ada selera—tetapi kadarnya benar-benar harus dikontrol. Di sini pula bertemu antara temuan ilmiah dan ajaran kearifan, yakni moderasi, atau secukupnya. Memang dibutuhkan pemahaman lebih tajam menyangkut apa yang disebut sebagai prinsip moderasi ini (Lihat situs Best Syndicates, misalnya).

Namun, untuk makan sehari-hari, pemahaman moderasi dapat diwujudkan dalam kebiasaan ”berhenti makan sebelum kenyang” karena—kembali meminjam pernyataan Ustaz Amir Faishol—yang ideal sebenarnya hanya sepertiga dari perut yang untuk makanan. Sepertiga lainnya untuk minum dan sepertiga lainnya untuk udara.

Seperti disinggung di atas, selain jumlah, faktor yang tidak kalah penting selain moderasi adalah keseimbangan dan keragaman. Keragaman dibutuhkan karena tidak ada satu makanan pun yang dapat memasok semua nutrien yang dibutuhkan tubuh. Keseimbangan dibutuhkan agar setiap kelompok dari lima sehat tersedia untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Kearifan Ramadhan

Tampak bahwa makanan sungguh menjadi isu yang kompleks. Dokter ahli stroke atau ahli jantung memperlihatkan dengan gamblang bagaimana pembuluh darah tersumbat oleh plak yang terbangun sebagai produk hidangan nikmat yang selama ini ditimbun oleh si pemilik tubuh.

Kehidupan menggariskan batas, seperti ungkapan Latin yang dikutip pada awal tulisan ini, dan peranan makanan besar dalam menetapkan batas tersebut lebih dini atau lebih kemudian.

Pada bulan Ramadhan, kearifan yang banyak disampaikan Pak Ustaz tampak sinkron dengan apa yang ditemukan oleh ilmu kesehatan. Selain memberikan kesempatan pada pencernaan untuk ”bersantai”, puasa juga mendorong ditegakkannya moderasi.

Penulis: NINOK LEKSONO

1 September 2009

Gangguan Kecil tapi Menjengkelkan

Filed under: Gangguan Tubuh — yusiisnadiyah @ 12:22 pm

KOMPAS.com – Banyak gangguan aneh yang kerap terjadi pada tubuh kita, misalnya vertigo atau sakit kepala mendadak setelah menyantap es krim. Dan masih banyak lagi. Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada tubuh?

Sakit Kepala karena Es Krim
Seringkali sakit kepala mendadak timbul saat kita sedang menikmati es krim. Hal ini terjadi ketika sesuatu yang dingin menyentuh saraf di langit-langit mulut yang akan merangsang pembuluh darah di kepala bagian depan mengerut sehingga menimbulkan rasa sakit. Untuk mengatasinya, tekan lidah ke bagian langit-langit mulut agar saraf di bagian ini kembali hangat.

Vertigo
Kalau serangan vertigo datang, ruangan serasa berputar disertai rasa mual. Penyebabnya bisa karena peradangan yang terjadi di telinga bagian dalam atau turunnya aliran darah ke bagian otak. Vertigo bisa datang mendadak, terjadi selama beberapa menit, tapi bisa juga sejam. Untuk mengobatinya, harus diketahui dulu apa penyebab vertigo.

Cegukan
Cegukan merupakan kontraksi diafragma (otot pernapasan yang berada di bawah paru-paru) yang tidak terkontrol. Makan terlalu cepat, alkohol berlebihan atau menelan udara bisa menyebabkan cegukan. Biasanya cegukan akan hilang dengan sendirinya, tetapi Anda bisa mempercepat hilangnya cegukan dengan cara minum air secara cepat atau menahan napas.

Pengeng
Setelah berkendara jauh, naik pesawat, atau berada di dataran tinggi, seringkali kuping menjadi pengeng. Menguap bisa menghilangkan gangguan ini. Dengan menguap kita menyeimbangkan tekanan antara bagian dalam dan luar gendang telinga dengan perubahan ketinggian. Hal ini terjadi karena tabung yang menghubungkan telinga bagian tengah dan bagian belakang kerongkongan terbuka sehingga udara bisa masuk. Selain menguap, pengeng juga bisa dihilangkan dengan cara mengunyah permen.

Tingkat Penyebaran A-H1N1 Sangat Cepat

Filed under: A-H1N1 — yusiisnadiyah @ 3:05 am

PARIS, KOMPAS.com — Penyebaran influenza A-H1N1 empat kali lebih cepat daripada virus-virus lain dan 40 persen kematian terjadi pada orang muda dan sehat.

”Perjalanan virus ini tidak dapat dipercaya, hampir tak terdengar kecepatan penyebarannya,” kata Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Margaret Chan kepada France’s Le Monde Daily, Sabtu (29/8) di Paris, Perancis.

”Dalam enam pekan, virus itu menyebar ke berbagai tempat. Padahal, virus-virus lain butuh waktu 6 bulan untuk menjangkau jarak yang sama dengan virus influenza A-H1N1,” kata Chan.

”Sebanyak 60 persen kematian terjadi pada pasien yang sudah memiliki masalah kesehatan,” ujarnya. Hal ini berarti, 40 persen dari kematian terjadi pada kaum muda—dalam kondisi kesehatan bagus—yang meninggal karena demam akibat infeksi virus flu A-H1N1 dalam 5-7 hari.

”Hal ini merupakan fakta yang paling mengkhawatirkan. Lebih dari 30 persen penduduk di negara dengan tingkat kepadatan tinggi berisiko terinfeksi virus flu A-H1N1,” katanya. Virus pandemik flu A-H1N1 kini mendominasi strain flu pada sebagian besar bumi ini.

Pandemi akan tetap berlangsung dalam beberapa bulan ke depan pada populasi rentan terinfeksi. Meski demikian, alokasi sumber daya pelayanan gawat darurat dan perawatan bagi pasien kanker dan penyakit jantung sebaiknya tidak dialihkan. ”Semua negara harus menyiapkan kondisi terburuk menghadapi persoalan ini,” ujarnya.

Data terakhir WHO menunjukkan, lebih dari 2.180 orang di dunia meninggal akibat virus itu sejak April. Di Indonesia, hingga kemarin, Departemen Kesehatan mencatat jumlah kumulatif kasus flu A-H1N1 1.055 orang, 8 pasien meninggal. Sebagai pembanding, Thailand memiliki 13.019 kasus dengan 114 orang meninggal, di Malaysia 68 pasien meninggal.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Tjandra Yoga Aditama menyatakan, upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah. Upayanya antara lain menyiapkan rumah sakit rujukan, logistik, memperkuat pelacakan kontak, serta surveilans komunitas. (AFP/EVY)

31 August 2009

Daftar Obat Yang Tidak Boleh Diberikan ke Bayi

Filed under: Obat — yusiisnadiyah @ 12:44 pm

Jakarta, Bayi dan balita memiliki sensitivitas yang lebih tinggi terhadap obat-obatan dibandingkan remaja. Jika memberikan dosis atau waktu pemberian obat yang salah, bisa-bisa obat tersebut tidak efektif atau bahkan berbahaya bagi bayi.

Memberikan obat pada bayi harus sesuai dengan resep yang diberikan dokter. Ada beberapa obat yang tidak bisa diberikan pada bayi terutama yang berusia di bawah 6 bulan, karena memiliki efek samping yang berbahaya bagi bayi.

Beberapa obat yang tidak dianjurkan untuk bayi biasanya karena bisa menghambat kerja sistem tubuh, atau tubuh bayi belum bisa menoleransi obat tersebut. Sehingga bukan kesembuhan yang didapat tapi bisa jadi menimbulkan penyakit yang lain akibat efek sampingnya.

Berikut ini adalah beberapa obat yang harus diperhatikan anjuran penggunaannya dan usia sang bayi seperti dikutip dari Babycenter, Senin (31/8/2009):

1. Paracetamol. Obat ini tidak dianjurkan untuk bayi berusia di bawah 3 bulan, penggunaan obat ini sebaiknya berdasarkan resep dan setelah berdiskusi dengan dokter atau setelah bayi mendapatkan vaksinasi pertama kali. Parasetamol bisa menghambat beberapa enzim yang berbeda di dalam otak dan ikatan tulang belakang yang terlibat dalam perpindahan rasa sakit. Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa penggunaan parasetamol pada bayi bisa meningkatkan risiko asma 5 tahun mendatang sebesar 46 persen.
2. Ibuprofen. Obat ini sebaiknya digunakan untuk bayi berusia 6 bulan ke atas, karena obat ini bisa menghambat produksi beberapa zat kimia di dalam tubuh yang bisa meningkatkan respons cedera, sakit atau menyebabkan peradangan. Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa ibuprofen memang lebih bagus untuk mengatasi demam atau menurunkan suhu tinggi pada anak-anak di atas usia 6 bulan. Obat ini tidak bisa digunakan untuk bayi yang menderita asma sejak lahir atau turunan.
3. Aspirin. Jangan pernah memberikan anak obat yang mengandung aspirin, karena bisa menyebakan Reye’s syndrome (sindrom yang bisa mengubah zat-zat kimia dalam darah sehingga merusak fungsi beberapa organ terutama hati dan otak) yang pada kasus tertentu bisa mengakibatkan kematian. Aspirin kadang ditulis sebagai salisilat atau asam asetilsalisilat.
4. Obat anti-mual. Jangan memberikan obat ini tanpa rekomendasi dari dokter, karena obat ini memiliki risiko komplikasi. Rata-rata anak-anak bisa mengatasi rasa mual tanpa harus mengonsumsi obat-obatan. Jika sudah mengalami dehidrasi, segera hubungi dokter.
5. Obat batuk dan flu yang dijual bebas. American Academy of Pediatrics (AAP) melarang penggunaan obat batuk dan flu yang dijual bebas untuk anak usia sebelum sekolah, karena bisa berbahaya. Efek yang ditimbulkan adalah tidak bisa tidur, sakit perut bagian atas dan jantung yang berdebar-debar. Setiap tahun 7.000 anak-anak di bawah usia 11 tahun masuk rumah sakit karena mengonsumsi obat batuk dan flu yang berlebihan.
6. Obat orang dewasa. Memberikan anak-anak obat orang dewasa dengan dosis yang dikurangi sangat berbahaya. Jika obat tersebut memberi tanda tidak untuk anak-anak, maka jangan pernah mencoba untuk diberikan ke anak-anak.
7. Asetaminofen yang berlebihan. Beberapa obat mengandung asetaminofen untuk mengurangi demam dan sakit, tapi berhati-hati dalam penggunaannya. Harus sesuai dengan resep dokter atau apoteker setempat.
8. Obat herbal yang mengandung ephedra atau ephendrine. Jangan pernah memberikan anak-anak obat ini, karena berhubungan dengan tekanan darah tinggi, detak jantung yang tidak teratur, serangan jantung dan stroke. Berikanlah pengobatan alternatif lain yang lebih aman dan alami.
9. Tablet kunyah. Jangan memberikan anak berusia di bawah 2 tahun obat ini, umumnya anak berusia 2 sampai 4 tahun yang sudah mengerti cara minum obat ini. Jika orang tua berpikir anaknya belum terlalu mengerti, maka hancurkan obat dan letakkan di sendok yang diberi sedikit air. Dosis yang diberikan harus sesuai.

Jika bayi Anda mengalami demam, maka cobalah mengikuti beberapa langkah berikut ini:

1. Pastikan bayi menggunakan pakaian yang nyaman terutama yang berbahan dasar katun, sehingga bisa menyerap keringat.
2. Jaga suhu di kamarnya tetap nyaman, jangan terlalu dingin atau panas.
3. Berikan minum yang cukup, bisa berupa ASI atau susu formula. Untuk bayi yang sudah boleh mendapatkan makanan pendamping ASI cobalah berikan jus buah atau sup.
4. Kompres bayi dengan menggunakan air hangat dan segera ganti jika handuknya sudah kering.

Lebih telitilah dalam memberikan obat pada anak Anda, karena jika dosisnya berlebih atau obat tersebut tidak boleh diberikan untuk anak-anak maka bisa berakibat fatal.

Vera Farah Bararah – detikHealth

Pengendalian Nonmedis A-H1N1 Diintensifkan

Filed under: A-H1N1 — yusiisnadiyah @ 8:01 am

KOMPAS.com — Pemerintah Indonesia mengintensifkan berbagai cara pengendalian, termasuk respons nonmedis terhadap penyebaran virus influenza baru H1N1 yang semakin meluas, baik di dunia maupun di Indonesia.

“Penanganan nonmedis sama pentingnya dengan respons medis karena apabila pandemi semakin meluas, berbagai sektor pelayanan juga akan kena dampak, minimal dengan berkurangnya tenaga kerja karena sakit,” kata Koordinator Bidang Komunikasi Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI) Memed Zulkarnaen di Jakarta, Senin.

Komnas FBPI mengintensifkan berbagai kesiapsiagaan nonmedis, antara lain, dengan melakukan sosialisasi kepada pemerintah daerah dan melaksanakan simulasi desktop (simulasi pemutusan kebijakan saat gawat darurat).

Simulasi jenis ini melatih berbagai pejabat dinas yang menjalankan fungsi pelayanan masyarakat, badan penanggulangan bencana daerah, organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, media lokal, dan tokoh agama/masyarakat untuk berkoordinasi dalam merencanakan respons tanggap darurat dan mengambil keputusan apabila pandemi meluas dan virusnya semakin mematikan.

Komnas FBPI, dengan bantuan berbagai departemen yang menjadi anggotanya, telah melaksanakan simulasi jenis ini di hampir seluruh provinsi di Indonesia bersama dengan Unicef Indonesia dengan dukungan Pemerintah Kanada melalui Canadian International Development Agency (CIDA).

“Unicef Indonesia membantu mengembangkan kapasitas nonmedis Pemerintah Indonesia dalam merespons pandemi, terutama di bidang komunikasi resiko,” kata konsultan media Unicef Indonesia yang menangani komunikasi flu burung dan pandemi, Arie Rukmantara.

“Pada akhirnya nanti, semua kerja dan tugas merespons pandemi oleh Unicef ataupun lembaga internasional lainnya akan diambil alih, ditangani oleh negara dalam rangka melindungi warga negaranya,” ujar Memed.

Memed juga menekankan bahwa mitra kerja, seperti Unicef dan Badan Kesehatan Dunia/ WHO, tetap akan bekerja merespons pandemi selama Pemerintah Indonesia masih membutuhkan kontribusi mereka. “Saat ini kita dalam situasi pandemi global, kami masih perlukan kerja sama dan dukungan semua pihak,” tegasnya.

Menanggapi pernyataan Memed, Arie juga menekankan bahwa pada akhirnya pemerintah dan masyarakat Indonesia lah yang akan memutuskan langkah terbaik merespons pandemi dan memitigasi dampak buruknya.

“Jadi, respons pandemi tidak diambil alih dari satu badan PBB ke badan PBB lainnya,” ujarnya, sambil meluruskan berita yang beredar sebelumnya bahwa kerja Unicef merespons pandemi akan diambil alih oleh WHO. Kedua badan PBB ini tetap akan mendukung pemerintah dalam merespons pandemi influenza A-H1N1 pada 2009 ini.

90% Penyakit Dipicu dari Makanan

Filed under: Pola Makan — yusiisnadiyah @ 3:50 am

Jakarta, Tahukah Anda bahwa hampir 90 persen penyakit yang diderita oleh manusia ada hubungannya dengan makanan yang dikonsumsinya. Makanan menjadi pemicu penyakit-penyakit seram seperti diabetes atau jantung.

Memang ada penyakit yang diakibatkan genetik atau kelainan organ tapi itu jumlahnya tidak banyak. Sedangkan 90% penyakit dipicu oleh makanan mulai dari kekurangan gizi makanan atau makan secara berlebih yang semuanya berhubungan dengan pola makan yang tidak benar.

Tapi banyak orang tidak peduli dan sering terdengar ungkapan, “Ini enggak sehat, itu enggak sehat terus makan apa?”. Anda mungkin sudah tahu makanan berkolesterol tinggi, terlalu manis, alkohol tentu tidak baik, meski kalau hanya sesekali mencoba dalam dosis wajar tentu saja masih bisa ditolerasi.

Tapi yang menjadi masalah, kadang orang sudah tahu makanan itu tidak bermanfaat tapi tetap saja menuruti nafsunya. Maka jangan pernah merasa bosan jika ada yang mengingatkan agar pola makan Anda diperbaiki. Makanan akan terhubung dengan kesehatan saluran pencernaan yang sangat menentukan kualitas kesehatan orang tersebut.

Sistem pencernaan manusia dimulai dari mulut lalu melewati esofagus, masuk ke lambung diteruskan ke usus besar, usus 12 jari, usus kecil dan berakhir pada anus. Maka perjalanan dari makanan yang dikonsumsi oleh seseorang sangat panjang untuk diolah.

Dr. Epistel P Simatupang, SpPD dalam acara Seminar Umum ‘Waspadai Saluran Cerna Anda & Hepatitis’ di Siloam Hospital Kebun Jeruk, Jakarta, 29 Agustus 2009 mengatakan masalah yang paling sering terjadi pada saluran pencernaan seseorang adalah peradangan esofagus, tukak lambung, peradangan usus 12 jari dan fungsionalis dispepsia yaitu adanya keluhan namun jika diperiksa secara endoskopi tidak ada luka pda saluran cernanya.

Dr Epistel juga menambahkan bahwa saat orang makan sebaiknya jangan minum terlalu banyak. Hal ini bisa mengencerkan enzim pencernaan yang membuat enzim tersebut tidak bekerja secara optimal dalam membantu proses pencernaan. Selain itu jangan makan terlalu banyak karena bisa membuat lambung memproduksi asam lambung yang berlebih.

“Usus besar manusia berfungsi untuk penyerapan air sedangkan hampir 90 persen penyerapan makanan terjadi di usus kecil. Dan sebaiknya orang mengonsumsi buah dalam bentuk padat karena bisa membantu otot wajah bekerja sehingga bentuk wajah seseorang masih bisa tetap bagus,” ujar dokter yang mengambil program spesialis di Manila ini.

Dr Epistel memberikan beberapa tips agar bisa menjaga sistem pencernaan seseorang tetap baik, yaitu:

1. Perbanyak mengonsumsi buah dan sayuran, sehingga membuat otot lambung dan usus menjadi kuat.
2. Makanlah makanan yang mengandung antioksidan tinggi.
3. Hindari makanan yang melalui proses dalam pembuatannya seperti makanan instan.
4. Minumlah air putih 8 gelas sehari.
5. Hindari atau kurangi makanan yang mengandung gula tinggi (manis), lemak dan minyak.
6. Olahragalah secara teratur.
7. Pengendalian diri yang baik dari kebiasaan-kebiasaan buruk.

Jadi, jika ingin mendapatkan tubuh yang sehat dan terhindar dari penyakit, maka rawatlah saluran pencernaan Anda dengan memasukkan makanan yang berguna buat tubuh.

Vera Farah Bararah – detikHealth

29 August 2009

Per 29 Agustus 2009, 1.055 Orang Positif Tertular Influenza A H1N1

Filed under: A-H1N1 — yusiisnadiyah @ 3:02 pm

Depkes RI – Hari ini, Badan Litbangkes Depkes melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 22 orang, 2 orang diantaranya meninggal dunia dari Jawa Timur, dengan gambaran klinik pneumonia serta hasil laboratorium menunjukkan H1N1 positif.

Dengan demikian secara kumulatif, total kasus sebanyak 1.055 orang tersebar di 24 provinsi dengan 8 kematian, kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes.

Ditambahkan, data kasus influenza A H1N1 di negara tetangga kita yaitu Thailand memiliki 13.019 kasus dengan 114 kematian, Singapura 12 kematian, Malaysia 68 kematian dan Australia ada 33.511 kasus dengan 132 kematian.

Prof. Tjandra menjelaskan, penyakit influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah.

Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan bugar yakni makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan mencuci tangan pakai sabun. Selain itu, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra.

Upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).

Disamping itu juga dilakukan community surveilans yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu dirawat di rumah sakit, tambah Prof. Tjandra.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes.go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

« Newer PostsOlder Posts »

Theme: Banana Smoothie. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.